Jumat kemaren, 13 juni, pertama kalinya ngerti dimana Taman Ismail Marzuki. Karena g ngeh dengan jalanan Jakarta dan dimana tempatnya maka rencana kesana dah disusun jauh-jauh hari. Awalnya ngerencanain berangkat bareng dengan hanif tapi ternyata dia harus pulang ke Demak, kampung halamannya. Akhirnya Tanya temen-temen kantor gmana cara paling mudah ke TIM dari cengkareng, termasuk ngebuzz Ryan yang ternyata g tau juga dimana tempatnya (padahal dah setaon lebih dia dijakarta…hehehe). Setelah Peta sederhana berhasil dibuat berikut ancer-ancer(bahasa indonesianya pa ya) yang harus dilewati saya optimis bakal sampe dengan selamat ke TKP. Owiya lupa…ada apakah gerangan saya bela-belain jauh-jauh dari cengkareng ke TIM…karena ada acara yang namanya Kenduri Cinta di parkir Timur TIM, acara yang sudah delapan tahun dilaksanakan tiap bulan disana.
FYI…Forum rutin yang sama diadakan dikasihan Bantul tiap tanggal 17 setiap bulan, tempat saya belajar untuk ngerti sedikit tentang Indonesia pas masih dijogja, juga di Semarang, Jombang, Malang dan tentative diberbagai tempat di Indonesia. Forum ini digagas Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) dan lebih dikenal dengan Maiyah.
Lagi-lagi karena alasan g ngeh dengan Jakarta dan temen yang g jadi berangkat akhirnya saya memaksa Rangga (Tokoh satu ini pernah muncul di blognya Agung), yang baru beberapa minggu menuh-menuhin ibukota, untuk ngikut ke TIM. Soalnya g elit aja kalo kesasar sendirian kan lebih seru kalo kesasar ada temen:D. Rayuan paksaan saya berhasil lebih-lebih setelah tau bakal ada mbah surip disana, sepertinya rangga bener-bener ngefans dengan mbah satu ini. Kita janjian ketemu di halte busway Gambir. Yupe, lengkap sudah rencana saya…Peta ditangan teman di Jalan(eh bukan, di halte busway disamping jalan).
Jam 17.00 hari H adalah waktu pulang kantor, ngaret sebentar untuk memastikan jalan-jalan yang bakal dilewatin. Pulang kekostan di duri kosambi, maghriban, nunggu isya dan berangkat. Nyampe di Gambir kira-kira jam Lapan lewat, nyampirin rangga yang lagi duduk nunggu g jelas. Dia nunggu di halte Busway Gambir 1 dan bukan di Gambir 2, alasannya karena menurut beliau karena kalo ada 2 halte,Gambir 1 dan Gambir 2 maka halte utamanya pasti Gambir 1, alasan sederhana yang pas dan cocok bro
. Pas karena emang saya mintanya nunggu di halte tempat keluarnya Taxi dari Gambir, cocok karena dicocok-cocokin aja..hehehhe.
Banyak ilmu yang didapet disana, berkumpul dalam lingkaran yang selalu saja penuh dengan kejutan-kejutan, tempat memaknai laku kehidupan dari sudut-sudut yang berbeda. Soal taste jelas berbeda dengan apa yang saya dapat dikasihan, tempat mocopat syafaat biasa diadakan. Tapi kalo soal pemahaman ilmu dan pemaknaan terdapat garis tegas yang menghubungkan keduanya. tapi karena keterbatasan kemampuan untuk meras yang kita dapet maka cuma sedikit yang bisa diceritakan
Sudah sering kita mengucapkan taawudz setiap harinya, kalimat sederhana yang kalo diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”. Kita (paling tidak saya) membayangkan kalo setan-setan itu berkeliaran, terbang berseliweran, ia adalah Sesuatu diluar kita yang pekerjaannya menggoda manusia untuk melakukan hal-hal yang tidak diridhoi Tuhan. Tapi kita tidak memahami kalau ternyata kita memiliki potensi menjadi sesuatu tersebut. Kita berdoa kepada Allah dengan ucapan itu, sambil menegasikan potensi setan didiri kita. Sehingga kita selalu merasa setan berposisi berhadapan dengan kita, padahal dalam realitas sehari-sehari mungkin kita adalah setan itu sendiri, paling tidak kita memiliki sifat-sifat itu, Yang seharusnya secara sadar kita taawudzi sendiri, setiap kali. Ah betapa lemahnya kita manusia