Ini bukan demam Piala Asia, apalagi mau ngomentari perjuangan dahsyat tim Indonesia yang jadi penghibur orang-orang indonesia yang emang butuh hiburan. Tapi ngeliat usaha kemaren boleh deh bilang mereka jadi pelepas dahaga ditengah hausnya orang-orang indonesia biasa yang dalam konstelasi apapun dinegrinya bukan merupakan faktor penting.
Tapi memang selalu menyenangkan berbicara masalah sepakbola. Intinya sih sebenarnya sederhana, memasukkan bola sebanyak-banyaknya kegawang lawan dan menjaga agar gawang kita ndak kebobolan. Yang susah, memperjuangkannya. Ada bentuk kerjasama apik disana, ada kreativitas disana, ada imajinasi dan disiplin yang dimainkan. Tetap saja ada aturan-aturan pasti yang telah dibentuk oleh komite tinggi sepakbola, ada garis batas dimana kita bermain, ada daerah-daerah yang dibagi dengan jelas. Bahkan ada daerah diluar lapangan sepakbola yang dikenai aturan yang berbeda.
Bermain sepakbola adalah perjuangan visi dan misi untuk sebuah kemenangan. Tiap-tiap pemain memiliki tujuan yang sama demi kecintaan pada timnya. Maka setiap anggota tim rela berlatih berhari-hari, mempersiapkan fisik dan mentalnya. Panas atau dingin cuaca tidak menjadi soal, keringat mengucur, darah mengalir (terlalu berlebihan…sekedar untuk memberikan efek dramatis..
) bahkan mungkin diselingi dengan kelelahan dan isak tangis yang menjadi hal biasa. Mengembangkan kemampuan diri dan skill masing-masing untuk sebuah tujuan yang diidamkan. Bertanding sepakbola adalah implementasi dari hasil latihan setiap anggota tim. Disana kerjasama digagas dengan sangat rapih. Maka Kerjasama mereka bukanlah usaha agar setiap pemain mencetak gol ke gawang lawan. Lebih dari itu, kerjasama adalah kesadaran penuh setiap anggota tim untuk bekerja pada pos-pos yang menjadi tanggung jawabnya. Setiap pemain sadar dan paham betul apa tugasnya. Kiper sadar bahwa ia benteng terakhir untuk menjaga gawang timnya, para pemain belakang adalah para punggawa yang dengan taktis menghalau serangan dan gempuran lawan. Pemain tengah adalah orang-orang yang bertanggung jawab mengalirkan bola-bola dan rantai penghubung dengan para striker yang bertugas menjebol gawang lawan. Gol adalah sebuah euforia atas berhasilnya bentuk kerjasama tim kita.
Memang sih kadang skenarionya tidak selalu begitu, karena bisa jadi kiper mencetak gol, semua memiliki kesempatan untuk mencetak gol. Tapi kan setiap pemain sudah sadar tentang siapa dan apa yang seharusnya dia lakukan. Ketika gol terjadi bukan kita saja yang berteriak gembira. Suporter yang menjadi penyemangat kita, mereka yang kita berusaha untuk menyenangkannya juga akan merasa gembira. Memang mereka tidak bermain bersama kita, tapi tiap diri memiliki semangat menyala-nyala yang dialirkan kesetiap pemain dilapangan. Sadar atau tidak. Baik mereka ataupun kita.
Terjadinya gol dan kemenangan tidak bisa dimaknai dengan kemampuan hebat seorang-seorang an sich, tetapi ia bukti dari soliditas dan kekompakan tim untuk tujuan tersebut. Maka striker tidak bisa mengklaim gol itu adalah miliknya saja. Tidak bisa juga dibilang gol itu adalah umpan manis terukur dan briliant dari pemain tengah saja. Atau karena permainan apik dalam menghalau setiap serangan dari pemain belakang saja. Atau lagi ketangguhan kiper dibawah mistar gawang saja. Gol dan kemenangan itu adalah milik kita bersama (inget jingle sebuah TV swasta…mari berisik bersama). Maka kata saja lebih baik kita bungkus rapat-rapat tidak perlu diperlihatkan kemana-mana, atau kalo memungkinkan kita hilangkan saja.
Tentu saja tim sepakbola kita tidak harus selalu menang, ada kekalahan-kekalahan yang terasa menyesakkan dan kadang tidak bisa diterima. Kekalahan dan kesalahan itu tidak bisa juga kita timpakan kepada seorang anggota tim saja dan yang lain merasa tidak punya andil dalam kekalahan itu. Maka tidak juga bijak kata-kata “kamu sih…” atau “udah kubilang jangan begitu….“,” itu cara yang salah menghalau bola, seharusnya begini…“. Karena itu menciderai kekompakan dan psikologi para pemain. Dia menghancurkan semangat dan mengobarkan peperangan-peprangan kecil antar pemain. Apalagi kalo setiap pemain bersepakat untuk menyalahkan seorang saja. Maka kata saja lebih baik kita….(lihat kalimat terakhir pada paragraph sebelumnya).
Owiya, sangat tidak taktis juga kalo kesebelas pemain adalah semua yang bermental kiper, atau semuanya bermental bek atau bermental gelandang atau bermental striker. Karena ndak asyik pasti melihat pemain gerudukan semuanya hanya menyerang, atau semuanya hanya bertahan atau Cuma umpan-umpan pendek dilapangan tengah, yang lucu lagi kalo kesebelas pemain baris rapih berjajar dibawah mistar gawang….hehehehhe. Lha kalo tetap maksa seperti itu ya kan banyak menguras energi dan akan lama sekali kemenangan diraih, karena kekompakan permainan lawan terlihat begitu meyakinkan. Kita kehilangan kekuatan intrinsik yang seharusnya menjadi sumber daya mengagumkan di tim kita. Mungkin juga sih ada peperangan diantara tim lawan, lebih besar malah. Tapi gmana kalo yang terpampang dihadapan kita sekarang adalah sepakbola indah mereka.
Maka kekalahah dan tidak lolosnya Indonesia ke babak berikutnya di Piala Asia kemarin menjadi pelajaran berharga bagi bangsa kita. Mudah-mudahan dengan kekalahan itu kita selalu sinau untuk menampilkan sepakbola indah dalam aransemen kerjasama yang bertanggung jawab. Dan pada suatu saat, Tuhan memenangkan kita untuk mengangkat Piala Lambang Supremasi Dunia sebagai hadiah atas hasil kerja keras kita bersama.
Wah jadi pingin main bola lagi.
Grundelan tambahan
Komentator 1 : “Pendapat terakhir anda sebelum commercial break* Bung….Bukannya terlalu bermimpi itu….gmana mungkin kita bisa menang Piala Dunia”
Komentator 2 : “Ah gpp mimpi…Arai* bilang gini….tanpa mimpi dan semangat orang seperti kita akan mati…..”
Penonton televisi dirumah : “Woooo, komene komentator endonesa kuwi lho…ra mutu”
* commercial break diartikan sebagai iklan atau pesan-pesan berikut ini atau ada yang mau lewat.
*Arai adalah salah satu tokoh di novel Sang Pemimpi (buku kedua dari tetralogi laskar pelangi) karya Andrea Hirata.